Melawan dengan Bahagia: Duskusi Interaktif Jepara Green Generation x Jaladara

Ditulis oleh : Sabrina Gita Salsabella | Editor : Arum Sekar Kinasih

Akhir pekan lalu (25/01/2026),  tercipta ruang diskusi mengenai gender dan lingkungan. Dua aspek berbeda yang ternyata memiliki keterkaitan. Bertempat di Pendopo Museum Kartini Jepara, diskusi ini tampak ramai diikuti oleh masyarakat dan kawan-kawan komunitas Jepara.

Fasilitator dan pemateri kali ini adalah Fina, dari Jaladara. Tidak hanya mendengarkan materi lalu tanya jawab, kegiatan kali ini berkonsep interaktif dengan pembagian 4 kelompok dengan nama-nama binatang. Setiap kelompok berkesempatan berdiskusi kecil lalu menyuarakan pandangannya. Tidak ada kelompok yang diam atau menonton saja, semua kelompok berpikir dan bersuara.

Diskusi dimulai dengan pemahaman mengenai pengetahuan tentang gender. Bagaimana perbedaan gender dengan seks, hingga Interseksionalitas dari perubahan lingkungan. Selain itu, isu-isu lingkungan khususnya krisis ekologis juga disuarakan oleh beberapa kelompok. Pembahasan menjadi mudah karena setiap kelompok memberikan pandangannya tentang isu di Jepara maupun nasional namun dibenturkan dengan kondisi terkini.

Empat isu lingkungan yang didiskusikan adalah Melubernya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bandengan Jepara, Pemanasan global, Abrasi, dan Deforestasi yang menjadi penyebab krisis ekologis. Tentunya empat isu tersebut adalah sedikit dari jutaan isu yang ada. Di sesi ini, setiap kelompok mencoba menganalisis dampak isu tersebut. Hasilnya, semua isu ini berdampak pada kelompok rentan. Dampaknya berbentuk kesulitan akses kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Dalam penyampaiannya, Fina mengungkap kurang setuju dengan tagar ‘Saveplanet atau Saveearth’. Karena menurutnya, yang perlu dijaga dan survive adalah manusianya. Manusia yang hidup dan merasakan kerusakan lingkungan.

“Saya tidak setuju dengan tagar ‘Saveplanet atau Saveearth’. Bukan planet atau bumi yang harus dijaga namun manusianya,” tuturnya.  

Tidak perlu duduk di kursi dan ruang ber ac untuk mengutarakan pikiran. Diskusi sederhana namun berkesan lebih banyak meninggalkan pemahaman baru. Diskusi ini adalah salah satu bentuk penyuaran dan juga perjuangan rakyat kecil. Per hari ini, kegiatan diskusi mengenai lingkungan dan gender di Jepara masih sedikit. Sehingga para peserta menaruh harapan, agar kegiatan seperti ini dapat terlaksana secara berkelanjutan atau sustainble.

“Diskusinya sangat menarik sangat menginspirasi bagi saya yang merupakan orang baru di Jepara. Banyak edukasi yang bisa saya serap. Harapannya diskusi yang dilakukan hari ini bisa berkelanjutan dan berdampak bagi Jepara dan sekitarnya,” ucap Ihda masyarakat umum.

Selain masyarakat, dalam diskusi ini juga hadir mmahasiswa yang antusias dengan isu gender dan lingkungan,

“Ini adalah hal yang perlu disadari oleh diri sendiri untuk pada akhirnya dicari solusinya. Kalau akau sendiri, ini jadi satu refleksi di keilmuan aku psikologi, jadi bisa aku praktikkan,” ungkap Ricardo mahasiswa Psikologi UNDIP.

Pelaku kerusakan adalah manusia yang melihat keuntungan, namun korbannya adalah manusia yang tidak tahu menahu. Pemerintah perlu memberi sanksi tegas terhadap korporasi yang tidak memiliki tanggungjawab lingkungan. Meskipun KUHP baru sudah tercantum korporasi termasuk badan hukum, namun sampai hari ini korporasi yang merusak lingkungan masih berkeliaran dengan mata tertutup.

Diskusi ditutup dengan penyampaian kesimpulan dari moderator, “Mari melawan dengan Bahagia.”