Penulis: Ika Putri Aprilia
Editor: Sabrina Gita Salsabella

Memperingati Hari Ulang Tahun ke-477 Kabupaten Jepara, komunitas Jepara Green Generation bersama Kreator Jepara dan Guide Putri Ayu menyelenggarakan kegiatan bertema lingkungan yang menekankan pentingnya kolaborasi dan kepedulian terhadap alam. Dengan tajuk “Konservasi Alam dan Penanaman Pohon”, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata masyarakat khususnya anak muda dalam menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Jepara.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 19 April 2026, mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Titik kumpul peserta berada di Kedai Ngisor Kopi, Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kec. Batealit, Kab. Jepara, yang menjadi pusat koordinasi sebelum peserta bergerak menuju lokasi penanaman. Acara ini diikuti oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang. Meskipun jumlah peserta telah dibatasi oleh panitia, namun antusiasme masyarakat tetap tinggi.
Aktivitas akhir pekan ini mengangkat nilai kearifan lokal yang tercermin dalam filosofi Jawa “Ngayu Bagyo Kuto Jepara kanthi Ngabekti, Ngrumat lan Jago Bumi (Moeria) Pertiwi.” Filosofi tersebut mengandung makna penting tentang keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan, yang menjadi landasan dalam pelaksanaan kegiatan.
Penanaman pohon difokuskan pada dua lokasi yang memiliki tingkat kerawanan longsor, yaitu jalur menuju Air Terjun Banyu Anjlok dan Air Terjun Wadung Kecemplung. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan ekologis, yakni vegetasi berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah melalui sistem perakaran yang mampu mengikat partikel tanah serta meningkatkan daya serap air. Hal ini sejalan dengan pandangan Food and Agriculture Organization (FAO) yang menyebutkan bahwa penanaman pohon merupakan salah satu metode efektif dalam mengurangi resiko erosi dan longsor di daerah rawan.
Dalam kegiatan ini, total bibit yang ditanam mencapai sekitar 130 pohon dengan komposisi yang beragam. Sebanyak 10 bibit Tabebuya ditanam sebagai tanaman penghijauan yang juga memiliki nilai estetika tinggi. Selain itu, terdapat 50 bibit pohon Salam (Syzygium polyanthum) yang dikenal memiliki manfaat ekologis sekaligus nilai filosofis dalam budaya masyarakat. Sementara itu, sisa bibit lainnya merupakan jenis Ficus (Ficus parietalis), yang dipilih karena memiliki sistem perakaran kuat dan efektif dalam menjaga kestabilan tanah.
Pemilihan jenis tanaman tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek lingkungan, tetapi juga nilai sosial dan budaya. Dalam konteks budaya lokal, pohon Salam dimaknai sebagai simbol keselamatan dan keharmonisan. Nilai ini sejalan dengan konsep Pembangunan Berkelanjutan yang menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam.
“Menanam pohon bukan hanya tentang menghijaukan lingkungan, tetapi juga bentuk tanggung jawab kita terhadap generasi mendatang. Alam yang terjaga hari ini adalah warisan berharga untuk masa depan,” ungkap Nara selaku panitia gerakan konservasi alam dan penanaman pohon Jepara.
Selain kegiatan penanaman, acara ini juga menjadi sarana interaksi sosial dan edukasi lingkungan. Peserta dari berbagai kalangan dapat saling bertukar pengalaman serta memperluas jejaring sosial yang positif. Dalam perspektif Sosiologi Lingkungan, kegiatan kolektif seperti ini efektif dalam membangun kesadaran bersama terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Panitia juga mengimbau peserta untuk membawa tumbler pribadi sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Langkah ini sejalan dengan kampanye global yang didorong oleh United Nations Environment Programme dalam mengurangi sampah plastik melalui perubahan perilaku masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi berkelanjutan. Tidak sekadar menjadi bagian dari peringatan hari jadi Jepara, kegiatan ini juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat Jepara terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Penanaman sekitar 130 bibit pohon ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mengurangi risiko bencana alam khususnya bencana longsor.
Momentum peringatan HUT ke-477 Kabupaten Jepara ini menjadi pengingat bahwa mencintai daerah tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga melalui aksi nyata yang berdampak bagi masa depan. Karena pada dasarnya, lingkungan adalah penunjang Panjang pendeknya umur suatu daerah. Dengan Lingkungan yang aman, kehidupan ke depan akan semakin nyaman. Generasi selanjutnya berhak mendapatkan penghidupan yang layak, bukan dampak ekologis kita.
Referensi Ilmiah
Food and Agriculture Organization. (2020). The State of the World’s Forests 2020: Forests, Biodiversity and People. Rome: FAO.
Intergovernmental Panel on Climate Change. (2023). AR6 Synthesis Report.
Environmental Sociology. Hannigan, J. A. (2014). Environmental Sociology (3rd ed.). Routledge.