Oleh: Sabrina Gita Salsabella

Sumber : Radar Kudus
Menginjak zaman serba pragmatis, tampak senyap suara-suara yang memisahkan kepercayaan dan ilmiah. Hal tersebut diperkuat dengan menginjaknya masyarakat Indonesia pada masa peralihan yang disebut dengan manusia prismatik. Seperti kata Fred W. Riggs ahli sosiologi yang menggambarkan masyarakat prismatik adalah masyarakat tradisional yang bergerak menuju manusia modern dengan membawa karakteristik yang masih bercampur aduk. Fenomena tersebut seringkali menimbulkan hal unik dan kompleks (Bone, 2023). Salah satunya keberagaman “Misteri” yang ada di setiap daerah dan menyebar melalui mulut ke mulut. Meskipun sudah mulai meredup, tampaknya beberapa daerah masih mengikuti dan bahkan percaya dengan misteri yang diwariskan nenek moyang.
Kata Misteri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tentang sesuatu yang masih belum jelas (masih menjadi teka-teki; masih belum terbuka rahasianya). Kenyataan yang begitu luhur sehingga secara mendasar melampaui daya tangkap manusia. Pun yang semakin dapat dimengerti dan dihayati, tetapi tidak pernah ditangkap seluruhnya sehingga tetap merupakan rahasia menyangkut kehadiran atau kegiatan Ilahi, misalnya Allah Tritunggal. Misteri bersifat rahasia dan belum sepenuhnya dapat dipecahkan. Tapi tidak memungkiri, sesuatu yang abu-abu itu juga dapat menjadi manfaat untuk manusia dan alam. Seperti pada misteri “Buyuk” yang datang dari pesisir utara Jawa, Jepara.
Perbincangan “Buyuk” tidak pernah menemui kejelasan. Sedari kecil sendiri, Saya selalu mendengar bahwa kedatangan Buyuk membawa pertanda buruk. Konon, akan terjadi kekeringan dan menjadi simbol bahwa laut/alam sedang tidak baik. Petuah lain mengatakan, makna kemunculan Buyuk bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan pertanda datangnya musim kemarau dan cuaca baik untuk melaut. Buyuk juga dianggap sebagai simbol kehidupan serta harapan bagi masyarakat pesisir, menunjukkan bahwa alam selalu memiliki caranya untuk memberi kehidupan dan harapan bagi manusia. Namun, masih menjadi misteri asal muasal Buyuk dan bagaimana penjelasan ilmiahnya.
Lalu Apa Itu Buyuk?

Sumber : Radar Jogja
Buyuk disebut juga Duyuk/Rembulung adalah pohon nipah (Nypa fruticans Wurmb). Dilansir dari Lindungihutan, buyuk terdaftar sebagai salah satu nama lokal untuk tanaman nipah di wilayah Sunda, Jawa, dan Bali. Secara morfologi, tanaman ini masuk dalam famili Arecaceae (Palmae) dengan nama ilmiah Nypa fruticans Wurmb. Palem tanpa batang di atas tanah, tumbuh di rawa payau, memiliki buah berbentuk bola (sering disebut sebagai “kepala” atau “buyuk” oleh nelayan jika terapung di laut).
Masyarakat Jepara memiliki berbagai interpretasi tentang kedatangan Buyuk. Beberapa sesepuh desa percaya bahwa Buyuk adalah “utusan” dari laut yang memberikan peringatan akan musim kering yang panjang, sehingga mereka harus lebih berhemat dalam penggunaan air. Di sisi lain, nelayan melihat Buyuk sebagai pertanda bahwa cuaca akan stabil dan hasil tangkapan ikan akan melimpah.
Tidak hanya meninggalkan perbincangan yang berlalu lalang, masyarakat Jepara juga merespon kedatangan Buyuk dengan tindakan. Yaitu “Tradisi Mapag Buyuk” yang menjadi tradisi mendoakan Buyuk yang tersandar di tepi pantai. Dilansir dari radarkudus.jawapos.com, tradisi Mapag buyuk pernah dilakukan di Pantai Teluk Awur Jepara pada tahun 2020/2022, saat Buyuk mendarat di pinggiran pantai. Rangkaian doa yang dilakukan masyarakat yakni berkumpul di dekat Buyuk yang terdampar dan dilanjutkan dengan membaca tahlil.
Buyuk menjadikan manusia menghormati dan menghargai laut. Dalam kepercayaan Jawa, Buyuk juga dikaitkan dengan kehadiran Dewi Sri atau Dewi Kemakmuran, yang membawa hasil panen dan rezeki yang baik bagi masyarakat, terutama bagi petani dan nelayan. Fenomena “Buyuk” di pesisir utara Jawa, khususnya Jepara, menghadirkan sebuah narasi unik yang menjembatani antara misteri alam, kepercayaan lokal, dan potensi kesadaran ekologis.
Kesadaran Ekologis dari Misteri Buyuk
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Buyuk-yang-tertangkap-kamera-di-Pantai-Bandengan-Jepara.jpg)
Sumber : Tribun Jateng
Kesadaran ekologis menjadi cara memberikan warisan lingkungan yang sehat untuk anak cucu kita. Namun, kesadaran ekologis masih menjadi hal yang langka dimiliki oleh masyarakat. Krisisnya kesadaran ekologis masyarakat disebabkan oleh sedikitnya pembelajaran ekologis yang diimbangi dengan kepesatan globalisasi di berbagai bidang (Omoogun, A. C., Egbonyi, E. E., & Onnoghen, U. N, 2016). Maka, penting untuk menafsirkan kembali fenomena seperti Buyuk dalam kerangka modern, yakni sebagai sarana membangun kesadaran ekologis. Kaitan ini diperkuat oleh berbagai studi yang menunjukkan bahwa pemahaman lokal dan pengalaman langsung terhadap lingkungan dapat meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian alam. Hal tersebut sebagaimana studi oleh Hafida dkk. (2020), di kabupaten Klaten yang menjadi daerah terdampak banjir, menunjukkan bahwa green literature berbanding lurus dengan kesadaran ekologis.
Pemahaman green literature lebih mudah dilakukan jika mengetahui kondisi lingkungan secara langsung. Sehingga, langkah-langkah pengelolaan lingkungan akan lebih baik jika diterapkan secara lokal. Upaya pengintegrasian konsep ekologis dalam mata pelajaran dapat mendorong peningkatan kesadaran tentang permasalahan lingkungan (Purnami, W., Utama, W. G., & Madu, F. J, 2016). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan menekankan bahwa dengan adanya kearifan lokal maka upaya melindungi dan mengelola lingkungan akan lebih mudah lestari dengan memperhatikan nilai-nilai luhur yang ada. Salah satunya dengan mempertahankan nilai Buyuk yang diimbangi dengan penafsiran yang benar mengenai arti sebenarnya.
Fenomena “Buyuk” di pesisir utara Jawa, khususnya Jepara, menghadirkan sebuah narasi unik yang menjembatani antara misteri alam, kepercayaan lokal, dan potensi kesadaran ekologis. Di balik misteri dan mitos yang menyelimuti kemunculan Buyuk, terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang sejatinya mengandung pesan penting, bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam.
Buyuk hadir sebagai pengingat akan karakteristik masyarakat prismatik Indonesia yang masih lekat dengan warisan nenek moyang. Meskipun asal-usul dan makna ilmiah Buyuk belum sepenuhnya terungkap, kehadirannya memicu berbagai interpretasi di masyarakat, mulai dari pertanda perubahan musim hingga simbol keberkahan atau bahkan peringatan. Respon masyarakat Jepara yang terlihat dalam tradisi “Mapak Buyuk” menjadi simbol penghormatan alam yang lekat dengan penghasil sumber daya yang kita rasakan.
Lebih dari sekadar misteri, Buyuk berpotensi menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Dengan memahami dan menafsirkan Buyuk dalam konteks pelestarian lingkungan, masyarakat dapat memperkuat kearifan lokal yang sejalan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009. Oleh karena itu, alih-alih membiarkan Buyuk tetap menjadi sekadar misteri yang redup di tengah gempuran zaman, penting untuk menggali lebih dalam potensi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Buyuk tidak hanya menjadi fenomena unik, tetapi juga warisan kearifan lokal yang berkontribusi pada kelestarian lingkungan pesisir Jawa.
Daftar Pustaka
Bone, K. (2023). Perubahan Sosial Pada Masyarakat Prismatik Di Indonesia. Aliri: Journal Of Anthropology. Vol 5 (2). Dakwah, F. et al.(2021) ‘Fakultas dakwah dan komunikasi universitas islam negeri ar-raniry darussalam banda aceh 2020/2021’.
Du, Y., Wang, X., Brombal, D., Moriggi, A., Sharpley, A., & Pang, S. (2018). Changes in Environmental Awareness and Its Connection to Local Environmental Management in Water Conservation Zones: The Case of Beijing, China. Sustainability (Switzerland), 10(2087), 1–24. https://doi.org/10.3390/su10062087
Omoogun, A. C., Egbonyi, E. E., & Onnoghen, U. N. (2016). From Environmental Awareness to Environmental Responsibility: Towards a Stewardship Curriculum. Journal of Educational Issues, 2(2), 60–72. https://doi.org/10.5296/jei.v2i2.9265
Purnami, W., Utama, W. G., & Madu, F. J. (2016). Internalisasi Kesadaran Ekologis Melalui Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah Dasar. Seminar Nasional Pendidikan Sains, 487–491. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/173 947-IDinternalisasi-kesadaran-ekologismelalui.pdf